Pengalaman Pertama traxvideo ke Luar Negeri

Siang itu mendapat chat dari Irene (Venterra) bahwa kami akan berangkat ke luar negeri dan diminta menyiapkan paspor. Ini semacam candaan yang saya tanggapi dengan setengah santai. Sampai dikirimkan inquiry dari Turning Point Solution, bahwa memang benar ada dealing berangkat ke Makau, China, pada tanggal 23-26 April 2017. Sontak membuat saya langsung melompat dan mengumpulkan berkas-berkas pribadi untuk persiapan mencari paspor.

Berangkat ke Makau, dengan jumlah kru sebanyak 10 orang, 3 fotografer, 2 manager, dan 5 videografer. Penerbangan, kami bagi menjadi dua kloter. 4 orang berangkat duluan, yaitu saya (Bona), Oka, Mega, dan Irene, sedangkan sisanya Anggara, Vifick, Wira, Birus, Jojo, dan Syailendra menyusul 3 hari kemudian. Lama Kami di Makau adalah 10 Hari dengan perhitungan 1 hari perjalanan menuju Makau, 2 hari pre-event, 4 hari event, 1 hari post-event, 1 hari extend (baca: jalan-jalan) dan 1 hari perjalanan pulang.

Makau, tempat yang sebelumnya hanya saya lihat di Internet akhirnya benar-benar bisa saya kunjungi. Kota yang konon katanya merupakan pusat hiburan (judi) Asia. Kota yang gemerlap akan lampu-lampu yang menghiasi setiap gedung, bahkan sebagian menyebut The City of Dream ternyata memang benar. Pemandangan malam yang gemerlap dari ketinggian pesawat menyapa saya saat akan landing, Impressi pertama adalah, kota ini memang kota yang mewah. Kami tiba malam hari setelah transit sekira 6 jam di Kuala Lumpur.

Makau pada malam hari. credit: Flavia Irene

Makau pada malam hari. credit: Flavia Irene

Bekerja, Bukan Berlibur

By the way, kami ke sini bukan liburan tapi bekerja. Setelah istirahat malamnya, keesokan paginya kami sudah harus bertemu dengan Anna, dari Turning Point Solution dan Tristan, video director asal Australia untuk membahas apa yang harus kami kerjakan. Tim dokumentasi dibagi menjadi dua. Tim foto dibawah kordinasi Syailendra, sedangkan tim video dibawah kordinasi Irene. Tim video harus bisa menyelesaikan 2 highlihgt, satu video behind the scene dan beberapa video pendek selama event. Karena event baru dimulai beberpa hari yang akan datang, maka Oka, Mega dan Irene berinisiatif untuk berkeliling Makau untuk mengumpulkan stockshot kota terlebih dahulu.

Irene sedang mendengarkan arahan Tristan. Credit: Agus Wiranata

Irene sedang mendengarkan arahan Tristan. Credit: Agus Wiranata

H-1 menjelang event, kloter kedua akhirnya mendarat di Makau. Tanpa sempat beristirahat terlebih dahulu tim kloter 2 bergabung dengan kloter 1 untuk survey lokasi. Ya, event ini memang event yang sangat besar dengan beberapa lokasi yang jaraknya cukup berjauhan. Setelah selesai berkeliling Makau akhirnya kami ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Sedangkan saya harus segera bergegas lagi ke ruang editing yang sudah disediakan penyelenggara untuk segera memotong dan mengumpulkan stockshot yang sudah diambil oleh kameramen.

Dan, tarrraaa… hari H event. Masih slow, semua masih mengambil gambar sesuai S.O.P. Mulai dari establish shot, banner sponsor, dll. Di editing pun masih slow. Jojo (editor) saya minta untuk membuat tiga profile chef sesuai request Tristan, dan itu dikerjakan dengan sekejap saja.

H+1 tensi mulai meningkat karena H+2 satu tayangan highlight diminta untuk siap tayang di tiga layar raksasa yang disiapkan di plenary. Ribuan shot yang berdurasi lebih dari 15 jam harus dipangkas habis menjadi 2 menit tayangan yang dinamis dan progresif. Tentu pekerjaan ini bukan pekerjaan mudah terlebih akan tayang di layar raksasa dan ditonton ratusan orang dari seluruh Asia Pasifik. Tekanan dari dalam diri yang mengharuskan menghasilkan sesuatu yang maksimal menambah semangat sekaligus beban. Waktu terus berjalan tak terasa pukul 3 dini hari dan kami (saya, Tristan, dan Jojo) masih di ruang editing. Entah energi apa yang saya dapat, saya menemukan instrument musik yang tepat dan struktur editan yang tiba-tiba menjadi mudah. Yesss, Im on the mood. Sebelum pukul 4 tayangan itupun di ACC dan nantinya diputar pada 9 pagi.

Suasana plenary tempat highlight akan diputar. Credit: Agus Wiranata

Suasana plenary tempat highlight akan diputar. Credit: Agus Wiranata

Hari-hari berikutnya masih slow, sampai hari terakhir event, tensi kembali meningkat karena harus menyempurnakan highlight awal menjadi highlight versi final. Tambahan stockshot yang jika direntangkan mencapai sekira 30 jam kali ini harus dipangkas menjadi 3 menit. Saya dan jojo membagi tugas mensortir stockshot yang terus menerus datang dari kameramen. Rata-rata setiap kali setor (sejam syuting) mereka membawa stockshot sepanjang 15 menit, itu kami potong menjadi rata-rata 3 menit setiap sessi. Malam tak terasa terus bergeser hingga jam 4 pagi, mata sudah mulai tak tahan. Kami pun membubarkan diri dari ruang editing dengan catatan besok jam 10 pagi saya harus sudah siap mempresentasikan hasil.

Saya dan Jojo sedang membahas jobdesk editing. Credit: Flavia Irene

Saya dan Jojo sedang membahas jobdesk editing. Credit: Flavia Irene

Sesampai di kamar hotel, hati tak tenang meninggalkan pekerjaan untuk tidur. Panggilan hati untuk menyelesaikan selalu muncul. Saya pun mengurungkan niat tidur dan melanjutkan mengedit. Akhirnya bisa diselesaikan pukul 8 pagi, dengan hasil (menurut saya) sangat memuaskan, bahkan sampai saya putar berkali-kali. Waktu 2 jam menjelang presentasi saya pergunakan untuk tidur sekejap. Mendinginkan mata yang mulai agak perih. Dan “triiinngggggg…” weker berbunyi tanda saya harus mandi dan siap-siap presentasi.

Di meja presentasi sudah ada Anna salah seorang petinggi Turning Point Solution dan Tristan sang video director siap untuk men-suvervisi apa yang saya kerjakan. Setelah diputar saya sedikit deg-degan untuk mendengar testimoni dari mereka. Tapi untungnya hanya revisi minor dan beberapa catatan kecil sehingga saya dan tim bisa kerjakan hari itu juga.

Walaupun Akhirnya Berlibur Juga

Menikmati suasana 'free day' bersama saudaranya Mega. Credit: Wira

Menikmati suasana ‘free day’ bersama saudaranya Mega. Credit: Wira

Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. ‘Free day’ its mean jalan-jalan day… karena waktu yang sudah mulai menjelang malam. Mega mengusulkan untuk bertemu salah seorang keluarganya yang kebetulan bekerja di Makau. Ia sekaligus menjadi tour guide lokal kami. Pertama kami diajak untuk mencicipi restorant Thailand yang cukup terkenal di daerah Taipa. Dan benar masakannya sangat rekomended setelah hampir lebih dari seminggu makan salad ala hotel. Ini mengembalikan citarasa lidah kami. Setelah puas makan kami meluncur ke salah satu café santai yang masih di seputaran restoran itu. Tak disangka kami ketemu komunitas Indonesia di sana, dan terbanyak adalah orang Bali. Kami disambut dengan hangat dilanjutkan ngobrol-ngobrol sampai menjelang pagi, sambil ditemani bir citarasa lokal bergambar seorang petinju.

Keesokan paginya, sesuai rencana untuk memanfaatkan extend day, kami meluncur ke Hongkong, dimana kota ini selalu saya saksikan di TV terutama saat film Jackie Chan diputar. Dengan modal sekira 300 ribu rupiah kita bisa menaiki kapal ferry. Walaupun sama-sama di negara China, menyebrang dari Makau ke Hongkong, kita tetap melewati pemeriksaan imigrasi lho. Gedung tinggi seperti iklannya HSBC menyambut di dermaga Hongkong. Benar saja kota ini dijuluki kota belanja, karena mall dan ruko berderet di sepanjang jalan. Kota ini sangat ramai, dan menurut saya agak lebih kotor dibanding Makau yang super bersih. Setelah puas jalan ke sana ke mari, kami memutuskan untuk istirahat di pelabuhan Victoria sembari menunggu pertunjukan yang fenomenal yaitu Symphony Light Orchestra.

Hongkong di malam hari. Credit: Mega Pratama

Hongkong di malam hari. Credit: Mega Pratama

Pertunjukan gratis ini melibatkan puluhan gedung pencakar langit yang terintegrasi menembakan laser ke langit dan mengikuti alunan musik. Pertunjukan yang dinobatkan sebagai pertunjukan laser terbesar di dunia oleh Guiness Book of Record ini berhasil mengusir penat dan lelah kami selama 9 hari bekerja. Selanjutnya setelah pertunjukan usai, kami bergegas menuju pelabuhan untuk balik ke Makau.

Keesokannya merupakan pagi terakhir kami di Makau, kami menyewa dua taksi yang mengantar kami langsung menuju bandara. Sungguh ini merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi kami, khususnya bagi saya. Ini adalah kali pertama kami ke luar negeri dan kami dibayar untuk ini. Benar-benar hobby yang menghasilkan. Banyak pelajaran yang saya pribadi dapat dari perjalanan ini. Bagaimana kita harus bekerja secara professional sesuai dengan tenggat waktu, bagaimana mengatur ritme antara bekerja dan refresh, dan tentunya teamwork yang solid. Tanpa ini tak akan ada sebuah karya, karena kerja produksi event khususnya video adalah kerja sistematis yang semua lini penting dan saling terkait. Ah, jadi pengen ke luar negeri lagi. By the way Sampai jumpa di perjalanan berikutnya, salam.

Oleh: Agus Wiranata (Bona)